Loading...

Home -> news -> Ini Dia Bocah yang Diklaim Sembuh dari Cerebral Palsy berkat Sel Punca
135817_peneliti460new
14 November 2015 / Stem Hospital

Ini Dia Bocah yang Diklaim Sembuh dari Cerebral Palsy berkat Sel Punca

Jakarta, Konon teknologi stem cell alias sel punca dapat dikembangkan untuk membuat obat dari berbagai macam penyakit, bahkan penyakit degeneratif yang sulit disembuhkan sekalipun.
Kalaupun bisa, teknologi ini masih terbilang baru dan masih diragukan efektivitasnya.

Namun belakangan tim dokter dari Jerman mengklaim untuk pertama kalinya berhasil mengobati seorang anak penderita cerebral palsy dengan sel punca. Cerebral palsy adalah kelainan pada gerakan, otot atau postur tubuh seorang anak akibat cedera atau gangguan perkembangan otak sebelum si anak dilahirkan.

Setelah mengalami serangan jantung pada bulan November 2008, bocah berusia dua tahun yang dirahasiakan namanya tersebut menjadi lumpuh sekaligus mengalami kerusakan otak parah dan memasuki vegetative state.

Tim dokter yang menangani si pasien pun memperingatkan kepada kedua orangtuanya bahwa peluang anak mereka untuk bertahan hidup sangatlah kecil. Apalagi hingga kini belum pernah ditemukan pengobatan untuk kondisi yang dikenal dengan infantile cerebral palsy ini.

“Dalam keputusasaan itu, orangtuanya mencoba mencari literatur terkait terapi alternatif. Kemudian mereka mengontak kami dan menanyakan apakah ada kemungkinan anaknya sembuh dengan menggunakan darah tali pusar anak mereka yang telah dibekukan ketika si anak ini lahir,” kisah Dr. Arne Jensen dari Campus Clinic Gynaecology yang mengembangkan terapi baru ini.

Terapi sel punca tersebut dikembangkan Dr. Jensen bersama koleganya, Profesor Hamelmann yang berasal dari Department of Paediatrics, Catholic Hospital Bochum, Ruhr University Bochum, Jerman

9 minggu pasca didiagnosis dengan kerusakan otak, atau tepatnya pada tanggal 27 Januari 2009, tim dokter ini pun menyuntikkan sel punca dari darah tali pusar si anak lewat pembuluh venanya. Kemudian mereka mempelajari kemajuan kondisinya pada bulan ke-2, 5, 12, 24, 30 dan 40 setelah cedera otak.

Biasanya peluang pasien untuk bertahan hidup pasca kerusakan otak parah semacam itu dan resusitasi berdurasi tak lebih dari 25 menit adalah enam persen saja. Berbulan-bulan pasca kerusakan otak parah, pasien anak yang dapat bertahan pun hanya memperlihatkan sedikit tanda kesadaran.

Tapi hanya dua bulan diterapi, gejala-gejala yang dialami pasien yang hanya diberi inisial LB ini menunjukkan pemulihan secara signifikan. Bahkan beberapa bulan berikutnya, bocah laki-laki ini dapat belajar berbicara kalimat-kalimat sederhana dan mulai bergerak seperti duduk dan tersenyum. Tak hanya itu, bocah ini tak lagi mengalami kejang otot sesering sebelumnya.

Yang tak kalah mengejutkan, 40 bulan kemudian, pasien ini akhirnya bisa makan sendiri dan mengucapkan kalimat yang terdiri atas empat kata, meski untuk berjalan ia masih harus dipapah.

“Temuan kami senada dengan hasil studi yang dilakukan di Korea sebelumnya sekaligus menepis keraguan terkait efektivitas terapi baru ini,” tandas Dr. Jensen seperti dilansir Daily Mail, Rabu (29/5/2013).

“Namun kami tak dapat mengatakan dengan pasti apakah yang menyebabkan pemulihan ini. Kami juga kesulitan menjelaskan efek luar biasa ini hanya dari penurunan gejala yang terjadi selama rehabilitasi aktif,” tambahnya

Pada tahun 2013, dalam sebuah studi terkontrol terhadap 100 anak, untuk pertama kalinya tim dokter asal Korea juga dilaporkan berhasil mengobati pasien cerebral palsy dengan sel punca dari darah tali pusar pasien yang ditransplantasikan secara alogenik.

Laporan kasus ini telah dipublikasikan dalam jurnal Case Reports in Transplantation.

Leave a Reply